Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Askep [Asuhan keperawatan]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Askep [Asuhan keperawatan]. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2018

ASKEP DEMAM TIFOID/TIFUS

ASKEP DEMAM TIFOID/TIFUS
LAPORAN HASIL TUTORIAL
DEMAM TIFOID
KELOMPOK III
FASILITATOR: Ns. Sri Muharni M.Kep
Anggota:
Rahmad  Hidayat
Novia Yunara Restu
Nurhayani
Herma yuwika
Haijah
Esa Irawati
Tiara Amerinta H
Suwarman
Aulia Septiarman
Rahma Denti
Fakultas Kesehatan dan MIPA
Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat
2012/2013

DAFTAR ISI
BAB  I PENDAHULUAN
            A.LATAR BELAKANG
            B.RUMUSAN MASALAH
            C.TUJUAN MASALAH
            D.METEDOLOGI PERMASALAHAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III PEMBAHASAN
            A.ISTILAH YANG TIDAK DIPAHAMI
            B.JAWABAN PERTANYAAN
            C.PATOFISIOLOGI
            D.ASUHAN KEPERAWATAN
BAB IV PENUTUP          
            A.KESIMPULAN
            B.SARAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah (Simanjuntak, C.H, 2009).

       Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis pasti. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain pada anak, terutama pada minggu pertama sakit.

B.RUMUSAN MASALAH                                                  
1.      Apakah pengertian Demam Thypoid?
2.      Apakah etiologi Demam Thypoid ?
3.      Bagaimanakah patofisiologi Demam Thypoid?
4.      Bgaimana manifestasi klinis Demam Thypoid?
5.      Apa saja pemeriksaan diagnostik pada pasien Demam Thypoid?
6.      Bagaimanakah diagnosis Demam Thypoid ?
7.      Apa saja klasifikasi Demam Thypoid  ?
8.      Bagaimana penatalaksanaan Demam Thypoid



C. TUJUAN
1.      Menjelaskan  pengertian Demam Thypoid?
2.       Menjelaskan etiologi Demam Thypoid?
3.      Menjelaskan  patofisiologi Demam Thypoid  ?
4.      Menjelaskan  manifestasi klinis Demam Thypoid  ?
5.      Menjelaskan  tanda dan gejala dari Demam Thypoid ?
6.      Menjelaskan  diagnosis Demam Thypoid?
7.      Menjelaskan  klasifikasi Demam Thypoid ?
8.      Menjelaskan  penatalaksanaan Demam Thypoid?

D. METEDOLOGI PERMASALAHAN
1.Mengklarifikasikan hal-hal yang belum diketahui dalam skenario
            Dalam hal ini kelompok akan mendefinisikan istilah-istilah dan konsep yang tidak jelas agar interpretasi terhadap informasi yang tersedia tidak perlu dipertanyaka lagi.
2.Mendefinisikan masalah
            Kelompok harus dapat mencapai kesepakatan agar setiap fenomena yang saling berhubungan dapat dijelaskan.Masalah yang ada dapat dibagi menjadi beberapa sub masalah agar dapat didiskusikan menurut aturan tertentu. Fungsi langkah ini adalah menuntun proses brainstorming (langkah 3) dan juga diskusi selanjutnya.
3.Menganalisa masalah
            Kelompok mencoba menentukan hal-hal yang dipikirkan oleh anggotanya.Apa yang mereka ketahui atau apa yang mereka anggap mereka ketahui tentang proses dan mekanisme yang mendasari masalah tersebut.Melalui teknik-teknik brainstorming ini,pengetahuan yang ada sebelumnya diaktifasi agar dasar diskusi tersedia.
4.Membuat daftar penjelasan-penjelasan yang dapat diterima
            Ide-ide dari langkah ke-3 disusun dan diperhatikan secara kritis . Pandangan-pandangan yang sepertinya seragam dikelompokkan bersama sebagai satu kesatuan,sementara pendapat yang berbeda disortir ,sehingga akan lebih jelas lagi apa yang masih harus dipelajari.
5.Merumuskan tujuan permbelajaran.
            Pertanyaan –pertanyaan yang muncul selama  atau sebagai hasil analisa masalah harus dijawab agar tercapai pemahaman yang lebih baik.Tujuan pembelajaran yang  telah dirumuskan tersebut merupakan dasar dari kegiatan belajar yang harus dilaksanakan pada tahap berikutnya.Fungsi langkah ini adalah menuntun proses belajat mandiri(aktive learning)
6.Mencari informasi tambahan diluar kelompok (aktive learning)
            Berdasarkan langkah ke-5,siswa diwajibkan mencari dan mengumpulkan informasi pada berbagai sumber acuan (kuliah,perpustakaan internet dan lain-lain).Pada langkah ini mahasiswa belajar untuk mengumpulkan informasi yang relavan guna menguasai masalah.
7.Membuat laporan pada kelompok tentang apa yang di peroleh sewaktu belajar mandiri
            Sesuai tujuan belajar mahasiswa akan mendiskusikan hasil kegiatan belajar mandiri
            Langkah ini memiliki 3 fungsi yaitu:
            -Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber hingga setiap kesalahan dapat                   dikoreksi.
            -Mununjukkan dan mendiskusikan hal-hal yang tidak jelas dari bahan yang dipelajari.
            -Memperdalam pengetahuan para siswa dengan cara pertukaran informasi secara    aktif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.KONSEP DASAR TEORI
A.PENGERTIAN.
Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella (Smeltzer & Bare, 2002). Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi (Mansjoer, A, 2009).

Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis (Sudoyo, A.W., & B. Setiyohadi, 2006). Tifoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, tifoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (Seoparman, 2007).

Tifoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansjoer, A, 2009).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A, B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

B.ANATOMI  FISIOLOGI
Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus besar ), rektum dan anus. Pada kasus demam tifoid, salmonella typi berkembang biak di usus halus (intestinum minor). Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya ± 6 m, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).

Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari, panjangnya ± 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lendir yang membukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus).

Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.

Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar ± 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang ± 2 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas.
Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disana-sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ilium terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa sentimeter. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan pada demam usus (tifoid). Sel-sel Peyer’s adalah sel-sel dari jaringan limfe dalam membran mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum (Pearce E.C., 2009).
Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung dalam usus halus melalui dua saluran, yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vili berisi lakteal, pembuluh darah epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama jaringan limfoid seluruhnya diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium.

Karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang di absorbsi ke dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawa ke hati untuk mengalami beberapa perubahan. Fungsi usus halus : Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran – saluran limfe. Menyerap protein dalam bentuk asam amino. Karbohidrat diserap dalam betuk monosakarida. Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan. organ berbentuk buah pir, letaknya dalam sebuah lobus di sebelah permukaan bawah hati, berwarna hijau gelap, berfungsi dalam pencernaan dan penyerapan lemak (Syair, H. 2010).

B.ETIOLOGI
1.96 % disebabkan oleh salmonella typhi, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekuran-kurangnya 3 macam antigen, yaitu :
a. Antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipolisakarida)
b. Antigen (flagella)
c. Antigen VI dan protein membran hialin

2. Salmonella paratyphi A,B,C
3. Feces dan urin yang terkontaminasi dari penderita typus (Wong ,2003).
Kuman salmonella typosa dapat tumbuh di semua media pH 7,2 dan suhu 37oC dan mati pada suhu 54,4oC (Simanjuntak, C. H, 2009).
C.PATOFISIOLOGI
          Kuman Salmonella masuk bersama makanan dan minuman setelah berada dalam usus halus akan mengadakan invasi ke jaringan limfoid pada usus halus dan jaringan limfoid mesentrika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis,kuman lewat pembuluh limfa masuk ke darah menuju organ retikuloendoterial sistem(RES) terutama hati dan limfa. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke organ tubuh terutama limfa kandung empedu ke rongga usus halus dan menyebabbkan reinfeksi di usus.
            Demam tifoid disebabkan karena salmonella thyposa dan endotoksinnya yang merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya beredar memmpengaruhi pusat termoregulator di hipotalamus yang akhirnya menimbulkan gejala demam.

D.MANIFESTASI  KLINIS
v  Nyeri kepala
v  Nyeri perut
v  Mual , muntah
v  Bradikrdi
v  Gejala pada anak :inkubasi antara  5-40 hari dengan rata-rata 10-14 hari
v  Demam meninggi sampai akhir minggu pertama
v  Demam turun pada minggu keempat,kecuali demam tidak tertangani akan menyebabkan shock,stupor dan koma
v  Ruam muncul pada hari 7-10 dan bertambah pada 2-3 hari

E.PEMERIKSAAN  DIAGNOSTIK      
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.

2. Pemeriksaan Sgot Dan Sgpt
Sgot Dan Sgpt pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :

a. Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.

b. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.

c. Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4. Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
5.UjiWidal
            Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita tifoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu: :
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
c. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)
            Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita tifoid.
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap kuman Salmonella typhi. Uji widal dikatakan bernilai bila terdapat kenaikan titer widal 4 kali lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O > 1/320, titer H > 1/60 (dalam sekali pemeriksaan) Gall kultur dengan media carr empedu merupakan diagnosa pasti demam tifoid bila hasilnya positif, namun demikian, bila hasil kultur negatif belum menyingkirkan kemungkinan tifoid, karena beberapa alasan, yaitu pengaruh pemberian antibiotika, sampel yang tidak mencukupi. Sesuai dengan kemampuan SDM dan tingkat perjalanan penyakit demam tifoid, maka ditemukan S. Thypi pada pemeriksaan biakan ataupositif S.Thypi pada pemeriksaan PCR atau terdapat kenaikan titerWidal 4 kali lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O> 1/320, H > 1/640 (pada pemeriksaan sekali) (Widodo, D. 2007).
F. PENATALAKSANAAN
1.     Medis
a. Anti Biotik (Membunuh Kuman) :
1) Klorampenicol
2) Amoxicilin
3) Kotrimoxasol
4) Ceftriaxon
5) Cefixim

b. Antipiretik (Menurunkan panas) :
1) Paracetamol.
2.     Perawatan
a. Observasi dan pengobatan
b. Pasien harus tirah baring absolute sampai 7 hari bebas demam atau kurang lebih dari selam 14 hari. MAksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi perforasi usus.
c. Mobilisasi bertahap bila tidak panas, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
d. Pasien dengan kesadarannya yang menurun, posisi tubuhnya harus diubahss pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia dan dekubitus.
e. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi konstipasi dan diare.
3.      Diet
a. Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
b. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
c. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
d. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari (Smeltzer & Bare. 2002).
G.KOMPLIKASI
1.      Komplikasi demam tifoid dibagi dalam :
 Komplikasi Intestinal
a. Pendaraha usus
b. Perforasi usus
c. Ileus paralitik
2.      Komplikasi ektra-intestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler. Kegagalan sirkulasi perifel (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi darah. Anemia hemolitik, trombositoperia dan sidroma uremia hemolitik.
3.       Komplikasi paru. Pneumonia, emfiema, dan pleuritis
4.      Komplikasi hepar dan kandung empedu, Hepatitis dan kolesistitis
5.       Komplikasi ginjal. Glomerulonefritis, periostitis, spondilitis, dan arthriti
6.       Komplikasi neuropsikiatrik. Delirium, meningismus, meningistis, polyneuritis perifer, sindrom, katatoni (Widodo, D. 2007).







BAB III
PEMBAHASAN
Skenario 4
An.B (7th) dibawa ke RS dengan keluhan demam sejak 5 hari yang lalu,nyeri kepala,anoreksia,mual,muntah,diare hingga 8x/hari. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan S 40C,N110x/mnt. Lidah kering,dilapisi selaput tebal keputihan,dibagian belakang tampak lebih pucat,dibagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Splenomegali (+).uji widal titer O>1/160.titer H>1/160. Klien mendapatkan  terapi klorampenikol 3x1,PCT 3x1,RL/6 jam.
Ø  Istilah yang tidak dimegerti.
1.      Anoreksia
Kehilangan nafsu makan
2.      Uji widal
Tes yang dilakukan mendeteksi adanya antigen bakteri salmonalla typhi dalam serum pasien yang dapat menyebabkan demam thypoid
3.      Titer
Kepekatan suatu unsur dalam larutan
4.      Klorampenikol
Sejenis obat bakterionalis mikroba

Ø  Per tanyaan
1)      Apakah penyakit ini terjadi pada usia anak-anak ?
2)      Apakah ada terapi lain untuk klien selain klorampenikol?
3)      Apa penyebab lidah pasien mengalami kering yang dilapisi selaput tebal putih?
4)      Apa penyebab splenomegali?
5)      Apa penyebab klien mual muntah,nyeri kepala,diare?
6)      Apa diagnosa medis?
7)      Apa penyebab demam?



Ø  Jawaban
1)      Tidak,dapat terjadi pada semua usia,karena bakteri salmonella thypi masuk ke usus halus sehingga menyebabkan demam.
2)      Ada,yaitu tiamfenikol,cotrimoxazole,amphixilin,dan amoxilin,kortikosteroid.
3)      Endotoksin yang masuk kedalam pembuluh darah kapiler,menyebabkan reseola pada kulit dan lidah.
4)      Kuman yang masuk ke saluran pencernaan tersebut menyebabkan peradangan dan nekrosis,kuman lewat pembuluh limfe masuk kedarah menuju organ RES terutama hati dan limfa.
5)      Salmonella yang berkembang biak di hati dan limfa terjadi pembengkakan menekan lambung sehingga terjadi rasa mual,penyebab diare karena masuknya kuman.
6)      Demam thypoid.
7)      Karena terjadi infeksi.

ASUHAN KEPERAWATAN
·        Pengkajian

·         Identitas pasien
Ø  Nama                      : An. B
Ø  Umur                      : 7th
Ø  Jenis kelamin          :
Ø  Alamat                    : -

·         Diagnosa medis : Demam Thypoid

·         Riwayat penyakit dahulu:
·         Riwayat penyakit sekarang:
An.B (7th) dibawa ke RS dengan keluhan demam sejak 5 hari yang lalu,nyeri kepala,anoreksia,mual,muntah,diare hingga 8x/hari.

·         Riwayat penyakit keluarga: -

·         Masalah psikososial: -

·         Masalah spiritual: -

·        Pemeriksaan fisik (Head to toe ):
a.      Head/kepala :
§  Rambut  : -
§  Mata       : -
§  Telinga               : -
§  Hidung   : -
§  Mulut     : -
§  Leher      : -

b.      Thorax/dada  :
§  Inspeksi     : -
§  Palpasi       : -
§  Perkusi      : -
§  Auskultasi : -
c.       jantung /kardiovaskuler :
I,P,P,A

d.      abdomen /perut :
§  I      : distensi abdomen
§  A      : bising usus tidak terdengar
§  P     :spenomegali
§  P     :tympani
e.       Genitalia / kelamin :regeditas difus

f.       Upper extermitas /ektermitas atas  : -

g.      Low extermitas /ektermitas bawah : -

h.      Ttv :
ü TD ,
ü N 110x/I,
ü S 40 C,
ü RR 27 X/i

·         Data penunjang:
Uji widal titer O>1/160,titer H > 1/160



·         Analisa data:
No
Data
Etiologi
Masalah
1
Ds :
An.B (7th) dibawa ke RS dengan keluhan demam sejak 5 hari yang lalu

Do :
S 40C, PCT 3x1, Uji widal titer O>1/160,titer H > 1/160

Bakteri salmonella thypi

Kontaminasi makanan& minuman,kebersihan diri (- )


 Masuk ke saluran cerna

lambung


sebagian lolos dari as.lambung


bakteri masuk ke usus halus


pembuluh limfe


peredaran darah
                       

masuk ke RES


Aliran darah


Endotoksin


Terjadi kerusakan sel


Merangsang pelepasan zat pirogen oleh leukosit


Zat pirogen beredar dalam darah


prostaglandin


mempengaruhi SSP(hipotalamus)pusat termuregulator


HIPERTERMI
hipertermi
2
Do : RL/6 Jam

DS:diare hingga 8x/menit
bakteri masuk ke usus halus


pembuluh limfe


peredaran darah
                       

masuk ke RES


sebagian menetap & hidup di ileum

peningkatan mobilitas usus


peningkatan peristaltik usus

DIARE
DIARE
3
DS : anoreksia,mual dan muntah

DS : splenomegali
masuk ke RES
pada limfa


berkembangbiak di  limfa

splenomegali


perasaan tidak nyaman di perut

anoreksia,mual dan muntah

kurang pasokan nutrsi


ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


·        Diagnosa keperawatan dan intervensi.
1)     Hipertermi b.d proses penyakit d.d suhu 40 c
Intervensi :
§   Pantau IWL
§   Pantau suhu tubuh 3 jam sekali
§  Pantau wbc,hb dan ht
§  Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya mengigil
§  Kolaborasi pemberiav PCT 3x1,Klorampenikol 3x1


2)     Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d faktor biologis d.d anoreksia,mual & muntah.
Intervensi :
§  Pantau mual dan muntah
§  Pantau Status nutrisi
§  Kaji intake dan output cairan pasien
§  Kaji adanya alergi makanan
§  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang di butuhkan pasien
§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe

3)     diare b.d proses penyakit d.d diare 8x/hari
Intervensi :
§  evaluasi efek samping pengobatan terhadap gastrotinal.
§  Observasi tugor kulit
§  Evaluasi intake makanan
§  Pantau bab pasien
§  Hubungi dkter bila terjadi kenaikan bising usus
§  Instruksi pasien/keluarga untuk mencatat warna ,jumlah,frekuensi dan konsistensi dari feses

·        EVALUASI
§  Pasien tidak mengalami diare.
§  Suhu kembali normal.
§  Nadi dan RR kembali normal.
§  Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing.
§  Nutrisi pasien tercukupi/normal



















PATHWAY DEMAM TIFOID
    Bakteri salmonella thypi             Kontaminasi makanan& minuman,kebersihan diri (- )
Masuk ke saluran cerna

                                                                     lambung                          sebagian dimusnahkan HCL

sebagian lolos dari  HCL
MK : resiko infeksi

bakteri masuk ke usus halus

pembuluh limfe

peredaran darah

masuk ke RES

               lamina propia                                sebagian menetap hidup dan hidup di ileum                         aliran darah

           berkembang biak                                       /           mobilitas usus                                                 endotoksin
          dihati dan limfa
                                                                            /             peristaltik usus                                            terjadi kerusakan sel
Pembesaran           pembesaran                                                                                            
MK : diare
MK: konstipasi
    Hati                       Limfa                                                                                                              merangsang pelepasan
                                                                                                                                               Zat pirogen oleh leukosit
Hepatomegali       splenomegali                                                 tubuh kehilangan cairan        
MK : defisit volume cairan
                                                                                                                                                     Pirogen beredar dalam darah    
   Perasaan tidak nyaman diperut                                                                                                              (prostaglandin)
                                                                                                                                                            Mempengaruhi SSP
MK : hipertermi              
     Anoreksia,mual & muntah                                                                           (hipotalamus)  pusat termuregulator
                                                                                                                                       
Kurang pasokan nutrisi(lemah,lesu,pucat)                                                                    Vasokontriksi pembuluh darah
MK :ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kbthn
                                                                                                                                                               Lapisan otak
MK : kurang pengetahuan
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Kurang informasi                                  Nyeri kepala
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella (Smeltzer & Bare, 2002). Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi (Mansjoer, A, 2009).
Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis pasti. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain pada anak, terutama pada minggu pertama sakit.













Daftar Pustaka
            Smeltzer,suzanna C,Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,Brunner dan suddarth.
            Nanda Internasional,Diagnosis Keperawatan definisi dan Klasifikasi EGC,2009 -2011
            Diagnosa Keperawatan Nanda,NIC-NOC Nursing
            Searching Google
            Analisis mahasiswa



Diposkan oleh rachmad hidayat di Jumat, Oktober 04, 2013
Reaksi:

Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Bagikan ke Pinterest

1 komentar:

Ace Maxs8 Juni 2015 23.05
informasi yang sangat bermanfaat, terimakasih banyak..

http://landongobatherbal.com/obat-herbal-penyakit-tipes/

Kamis, 02 Maret 2017

Gejala dan Jenis Tuberkulosis TB

Gejala dan Jenis Tuberkulosis TB

ASUHAN KEPERAWATAN KOLERA
Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Indonesia sendiri termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TB terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap yang mencapai 305.000 jiwa pada tahun 2012.
alodokter-tuberkulosis2
Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru dengan gejala utama berupa batuk berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari. Batuk juga terkadang dapat mengeluarkan darah. Selain batuk, pengidap TB biasanya juga akan kehilangan nafsu makan sehingga mengalami penurunan berat badan yang disertai demam dan kelelahan.

Ketika bakteri TB masuk ke dalam tubuh, bakteri tersebut bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB. Pada kasus ini, kondisi tersebut dikenal sebagai tuberkulosis laten. Sedangkan TB yang langsung memicu gejala dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif.

Penyebab tuberkulosis adalah bakteri yang menyebar di udara melalui semburan air liur dari batuk atau bersin pengidap TB. Nama bakteri TB adalah mycobacterium tuberculosis.

Berikut ini adalah beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi tertular TB:
  1. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, misalnya pengidap HIV/AIDS, diabetes atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  2. Orang yang mengalami malanutrisi atau kekurangan gizi.
  3. Pecandu narkoba.
  4. Para perokok.
  5. Para petugas medis yang sering berhubungan dengan pengidap TB.
  6. Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis
  7. Tuberkulosis termasuk penyakit yang sulit untuk dideteksi, terutama pada anak-anak. Dokter biasanya menggunakan beberapa cara untuk mendiagnosis penyakit ini, antara lain:
  8. Rontgen dada.
  9. Tes Mantoux.
  10. Tes darah.
  11. Tes dahak.
Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang dibutuhkan adalah dengan mengonsumsi beberapa jenis antibiotik yang harus diminum selama jangka waktu tertentu.
Langkah Pencegahan Tuberkulosis

Langkah utama dalam pencegahan TB adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia tiga bulan.

Vaksin BCG juga dianjurkan bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang belum pernah menerimanya pada waktu bayi. Tetapi harap diingat bahwa keefektifan vaksin ini akan berkurang pada orang dewasa.

Sabtu, 07 Januari 2017

Asuhan Keperawatan TYPHOID ABDOMINALIS.....fileentry

 Baca Juga Asuhan Keperawatan Penyakit KOLERA
Asuhan Keperawatan TYPHOID ABDOMINALIS.

A. Pengertian

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).

Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999).  READ MORE>>>
Baca Juga Asuhan Keperawatan Penyakit KOLERA


Askep Penyakit KOLERA ...Asuhan Keperawatan


ASKEP KOLERA

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG

Diare akut didefinisikan sebagai keluarnya buang air besar satu kali atau lebih yang berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang dari empat belas hari. Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal, biasanya ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi buang air besar lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa lendir dan darah. (Hidayat,2006)

Adanya bahan makanan yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi penyerapan air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga terjadi diare. Bakteri non-patogen (bakteroides, laktobasilus, klostridium) di dalam lumen usus halus (sering disebut flora usus) dapat menyebabkan diare. Normalnya melalui proses fermentasi bakteri non-patogen usus memetabolisir berbagai macam substrat terutama zat – zat makanan dengan hasil akhir asam lemak dan gas.

Metabolisme anaerob ini akan memberikan tambahan energi bagi tubuh. Akibat stasis usus, obstruksi dan malnutrisi menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah bakteri non-patogen sehingga pada proses fermentasi zat makanan menghasilkan metabolit yang tidak diinginkan oleh tubuh. Sebagai contoh : laktosa (dari susu) merupakan makanan yang baik bagi bakteri non-patogen. Laktosa akan difermentasikan menghasilkan gas lambung dan menyebabkan distensi.

baca juga : ASUHAN KEPERAWATAN DAN PENYAKIT EBOLA

ASUHAN KEPERAWATAN DAN PENYAKIT EBOLA

ASUHAN KEPERAWATAN DAN PENYAKIT EBOLA
baca juga : TYPHOID ABDOMINALIS

ASUHAN KEPERAWATAN DAN PENYAKIT EBOLA
ASUHAN KEPERAWATAN DAN PENYAKIT EBOLA
ASUHAN KEPERAWATAN

Penyakit EVD [ Demam Berdarah ] EHF adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Ebola. Masa inkubasi biasanya dimulai dua hari hingga tiga minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Gejala ini biasanya diikuti dengan mual, muntah, dan diare, serta menurunnya fungsi liver dan ginjal. Pada kondisi tersebut, orang yang terpapar virus Ebola mulai mengalami masalah pendarahan.

Pengertian Asuhan Keperawatan adalah merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien / pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah keperawatan sebagai suatu profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.

Proses Keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien / klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi). Menurut Ali (1997)

Proses Asuhan Keperawatan:

Asuhan keperawatan diberikan dalam upaya memenuhi kebutuhan klien / pasien.
Lima kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow yaitu :

Kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi.
a.      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan.
b.       Kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki.
c.      Kebutuhan akan harga diri.
d.      Kebutuhan aktualisasi diri.

Jadi bila menilik hasil dari pengertian di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan arti makna pengertian dari asuhan keperawatan adalah merupakan seluruh rangkaian proses keperawatan yang diberikan kepada pasien yang berkesinambungan dengan kiat-kiat keperawatan yang di mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi dalam usaha memperbaiki ataupun memelihara derajat kesehatan yang optimal.

Ada beberapa tujuan dan manfaat pemberian asuhan keperawatan diantaranya yaitu :
a. Membantu individu untuk mandiri.
b. Mengajak individu atau masyarakat berpartisipasi dalam bidang kesehatan.
c. Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal agar tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatannya.
d.Membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Fungsi Proses Keperawatan Proses keperawatan pun mempunyai fungsi dan fungsinya antara lain adalah :

a.Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi tenaga keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan.
b. Memberi ciri profesionalisasi pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah dan pendekatan komunikasi yang efektif dan efisien.
c. Memberi kebebasan pada klien untuk mendapat pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhanya dalam kemandirianya di bidang kesehatan.
Tahapan Proses Keperawatan

Tahap-tahapan dalam melakukan dan pengkajian pada proses keperawatan ini adalah lima yaitu :

1. Pengkajian Keperawatan.
Yang dimaksud dengan pengertian definisi Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.
Tahapan pengkajian keperawatan ini mencakup tiga kegiatan, yaitu Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah kesehatan serta keperawatan.  READ MORE... here

Minggu, 18 Desember 2016

Asuhan Keperawatan Diagnosis Pasien Pada Penyakit Influenza

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penyakit Influenza

Asuhan Keperawatan Diagnosis Pasien  Pada  Penyakit Influenza
Asuhan Keperawatan Diagnosis Pasien  Pada  Penyakit Influenza

Asuhan Keperawatan dengan diagnosis penyakit influensa jangan salah yang nama nya penyakit jika di biarkan lama kelamaan akan menjadi akut, jika sudah menjadi akut akan semakin parah dan akan lama proses penyembuhan nya.maka dari itu penyakit Influensa jangan di anggap ringan disini saya akan memberikan pengertian mengenai masalah penyakit Influensa

Pengertian 

Influenza adalah : Suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan terutama ditandai oleh demam, menggigil sakit otot, sakit kepala dan sering disertai pilek, sakit tenggorokan dan batuk non produktif.

Penularan.

Penularan influenza secara alami berasal dari percikan ludah saat bersin atau batuk. Penyebaran dapat pula berasal dari kontak langsung dan kontak tak langsung.
Virus influenza B menyebar dalam waktu 1 hari sebelum gejala timbul tetapi pada kasus influenza A baru tampak setelah 6 hari.penyebaran virus influenza pada anak berlangsung selama kurang dari 1 minggu pada influenza A dan sampai 2 minggu pada infeksi influenza B. masa inkubasi influenza berkisar dari 1 sampai 7 hari tetapi umumnya berlangsung 2 sampai 3 hari.

Pencegahan

Yang paling pokok dalam menghadapi influenza adalah pencegahan. Infeksi dengan virus influenza akan memberian kekebalan terhadap reinfeksi dengan virus yang homolog. Karena sering terjadi perubahan >>baca lagi
Baca Juga File file Asuhan keperatan berbagai Penyakit disini  .....file  file..

Minggu, 13 November 2016

Laporan Diagnosa keperawatan Nanda NIC-NOC Kasus Ruang Anak/fileentry

Nanda nursing Diagnosis report NIC NOC Case Space child
Laporan Diagnosa keperawatan Nanda NIC-NOC Kasus Ruang Anak/fileentry
Laporan Diagnosa keperawatan Nanda NIC-NOC Kasus Ruang Anak

Report SIRS is Sepsis Nursing Manejemen plus the known site of infection (defined with a positive culture towards the place of the organism).SARS (Systemic Inflammatory Respone Syndrome) are patients who have two or more criteria (or 380 360 temperature, heart rate 90 x/mnt, respiration UR20x.mnt, count of leukocytes 12000/mm3 or 10% of the cells Matura).

Sepsisis a severe sepsis-related organ dysfunction, disorder, hipoperfusi, or hypotension. Hipoperfusi disorders include (but are not limited to) on lactic acidosis, oliguria, or acute mental status changes. Nutritional imbalances less than body requirements
The risk of infection of breath pattern of ineffectiveness.


Intervensi Keperawatan

No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi Keperawatan
1.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Definisi:asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Batasan karakteristik:
·     Kram abdomen
·     Nyeri abdomen
·     Menghindari             makanan
·     Bb 20% atau lebih     dibawah BB ideal
·     Kerapuhan kapiler
·     Diare
·     Kehilangan rambut     berlebihan
·     Bising usus               hiperaktif
·     Kurang makanan
·     Kurang informasi
·     Kurang minat pada   makanan
·     Penurunan BB           dengan asupan         makanan adekuat
·     Kesalahan               konsepsi
·     Kesalahan               informasi
·     Membran mukosa pucat
·     Ketidakmampuan memakan makanan
·     Tunos otot menurun
·     Mengeluh gangguan sensasi rasa
·     Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA
·     Cepat kenyang setelah makan
·     Sariawan rongga mulut
·     Kelemahan otot pengunyah dan otot untuk menelan

NOC
v Nutritional status: food and fluid intake
v Nutritional status: nutrient intake
v Weight control
Kriteria hasil:
v Adanya peningkatan BB sesuai dengan tujuan
v BB ideal sesuai dengan TB
v Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
v Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
v Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
v Tidak terjadi penurunan BB yang berarti
NIC
·       Timbang BB tiap hari
·       Kaji intake dan output cairan
·       Kaji turgor kulit
·       Kaji adanya alergi makanan
·       Kaji jumlah nutrisi dan kandungan kalori
·       Anjurkan pasien untuk menignkatkan intake Fe
·       Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
·       Berikan makanan yang terpilih
2.
Ketidakefektifan pola nafas
Definisi: inspirasi/ekspirasi yang tidak memberi ventilasi
Batasan karakteristik:
·  perubahan kedalaman pernafasan
·  perubahan ekskrusi dada
·   mengambil posisi tiga titik
·  bradipneu
·  penurunan tekanan ekspirasi
·     penurunan ventilasi semenit
·     penurunan kapasitas vital
·     dipneu
·     pernapasan cuping hidung
·     ortopneu
·     fase ekspirasi memanjang
·     pernafasan bibir
·     takipneu
·     penggunaan otot aksesorius untuk bernafas
Faktor yang berhubungan:
·     ansietas
·     posisi tubuh
·     deformitas tulang
·     deformitas dinding dada
·     keletihan
·     hiperventilasi
·     sindrome hipoventilasi
·     gangguan muskuloskeletal
·     kerusakan neurolugis
·     disfungsi neuromuskular
·     obesitas
·     nyeri
·     keletihan otot pernafasan cedera medulla spinalis
NOC
v respiratory status: ventilation
v respiratory status: airway patency
v vital sign status
Kriteria hasil:
v TTV dalam batas normal
v mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih
·     menunjukkan jalan nafas yang paten
NIC
Airway management
·       monitor TTV
·       buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift, jaw trust bila perlu
·       catat adanya suara nafas tambahan
·       atur posisi senyaman mungkin
·       lakukan fisioterapi dada
·       berikan bronkodilator dan oksigen
3.
Risiko infeksi
Definisi: mengalami peningkatan risiko terserang organisme patogenik
Faktor yang berhubungan:
·     penyakit kronis
-   DM
-   obesitas
·     pengetahuan yang tidak cukup untuk menghindari pemajanan patogen
·     pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat
-   gangguan peristalsis
-   kerusakan integritas kulit (pemasangan IV, prosedur invasif)
-   perubahan sekresi PH
-   penurunan kerja siliaris
-   pecah ketuban dini dan lama
-   merokok
-   stasis cairan tubuh
-   trauma jaringan (mis, trauma destruksi jaringan)
·     ketidakadekuatan pertahanan sekunder
-   penurunan Hb
-   imunosupresi
·    vaksinasi tidak adekuat
·    pemajanan terhadap patogen lingkungan meningkat (wabah)
·     prosedur invasif
·     malnutrisi
NOC
·         immune status
·         knowladge: infection control
·         risk control
Kriteria hasil:
·         klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
·         mendiskripsikan penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
·         menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
·         jumlah leukosit dalam batas normal
·         menunjukkan perilaku hidup sehat
NIC
Kontrol infeksi
·       monitor tanda dan gejala infeksi
·       bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
·       pertahankan teknik isolasi
·       batasi pengunjung bla perlu
·       instruksikan pengunjung untuk mencuci tangan
·       cuci tangan setiap seblemu dan sesuda melakukan tindakan keperawatan
·       gunakan APD
·       tingkatkan intake nutrisi


 TB PARU

 TB PARU adalah penyakit akibat kuman mycobacterium tuberculosis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. TB paru merupakan penyakit infeksi saluran nafas bagian bawah yang menyerang jaringan paru atau parenkim paru oleh basil mycobacterium tuberculosis. TB paru dapat mengenai hamper semua organ tubuh (meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe, dll).

Masalah yang lazim muncul

  •  Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
  •  Gangguan pertukaran gas
  •  Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Laporan Diagnosa keperawatan Nanda NIC-NOC Kasus Ruang Anak  baca dan download lagi

lihat juga askep  Keperawatan menggunakan  13 domain nanda baca selengkap nya >disini
 

© 2013 Education Files. All rights resevered. Designed by Templateism | Blogger Templates

Back To Top